Kamis, 27 Desember 2018

Surat Untuk Mala,-


Untuk Mala.

Aku bangga dengan semua hal yang sudah kita lalui bersama.
21 tahun, suka, duka, jatuh, bangun.
Kita pernah salah arah dan berlinang air mata
Kita pernah tertawa bersama karena  jalan yang kita pilih benar adanya.

Mal,
Mungkin terkadang kita sama egoisnya, sama-sama keras kepala.
Kita bukan makhluk sempurna, suka tanpa sengaja membuat hati orang lain terluka.
Tapi ingat ya, jangan lupa untuk memperbaikinya.

Cobalah terbuka dengan apa yang kamu rasakan,
Jangan terus menjaga perasaan orang lain tapi kamu sendiri kesakitan.
Tak ada salahnya, orang berhak tau apa yang kamu rasakan.
Agar tidak bingung menghadapi kamu yang kekanakan.

Jangan terus menganggap kesalahan adalah ulahmu,
kamu juga punya hak menghakimi orang lain yang membuat sakit hatimu.
Tapi jangan dendam, beri saja pengertian, agar orang itu tidak terus sembarangan.

Jalan tidak selalu lurus, ada tikungan tajam, ada tanjakan, juga ada yang curam.
Tapi selalu ada rambu yang mengingatkan, kan?
Tidak perlu menyamakan langkahmu dengan orang lain, jalan pelan saja.
Nikmati pemandangan yang ada.

Mal,
Terimakasih sudah mau berjuang, terimakasih karena tidak menyerah padaku,
Terimakasih sudah mau bangkit, terimakasih sudah mau belajar menjadi lebih baik.
Semua keputusan yang kamu ambil selalu ada konsekuesi di dalamnya.
Jangan takut, hadapilah. Karena aku yakin selalu ada rencana baik dari-Nya.

Sepertinya masih panjang tahun yang akan kita lewati bersama.
Apapun ujungnya, semoga kita selalu bisa menguatkan, bisa saling mengingatkan.
Menjadi Mala yang lebih baik, bisa mengurangi yang tidak baik.

Sudah ya,
Semangat ya Mal, jangan mudah menyerah.

Tabik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenyataan

Pergi pagi pulang petang, hasil sebulan habis dalam satu kedipan dilahap ego yang meraja kepala hanya tersisa keluh dan kesah saja ...