Ini cerita tentang persahabatan. Kami bersabahat sudah sedari lama. Dia adalah seorang pemalu yang hatinya sulit ditebak, sedangkan aku adalah seseorang yang terlalu banyak bicara. Kata orang, perempuan dan laki-laki tidak mungkin menjalin persahabatan tanpa ada tumbuh rasa diantara keduanya. Aku membantah begitupun dia, karena kami merasa ini benar-benar hanyalah sebuah persahabatan tidak pernah sama sekali menggunakan rasa berlebih didalamnya.
Sampai pada akhirnya, sahabatku bercerita tentang sosok perempuan yang dia suka. Entah mengapa, ada satu rasa yang menggaguku, aku coba mencari tahu namun ku putuskan untuk memendamnya.
Dan tibalah hari dimana sahabatku mengungkapkan isi hatinya kepada perempuan
yang ia suka. Hari itu seolah semesta berpihak kepada sahabatku,
cintanya diterima dengan bahagia oleh perempuan itu. Harusnya aku juga
ikut bahagia, tetapi mengapa yang kurasakan berbeda? Dadaku terasa
sesak, seperti baru saja ada sesuatu yang menghantamnya. Ku coba menepis rasa itu, namun dadaku terasa semakin penuh. Ku coba meluapkan dengan menangis, aku sadar ini tak wajar, tidak seharusnya aku seperti ini, bersedih atas kebahagiaan sahabatku.
Aku coba meyakinkan, bahwa ini hanyalah rasa sedih karna merasa perhatiannya yang dulu hanya untukku harus terbagi dengan perempuan itu. Rasa sedih ini hanyalah rasa takut kehilangan dirinya yang selalu ada untukku bukan rasa sedih karena aku menyukainya. Menurutmu rasa apa yang sebenarnya aku rasakan? Mengapa rasanya sesakit ini? Mengapa aku tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka? Apa ini wajar?
Aku coba meyakinkan, bahwa ini hanyalah rasa sedih karna merasa perhatiannya yang dulu hanya untukku harus terbagi dengan perempuan itu. Rasa sedih ini hanyalah rasa takut kehilangan dirinya yang selalu ada untukku bukan rasa sedih karena aku menyukainya. Menurutmu rasa apa yang sebenarnya aku rasakan? Mengapa rasanya sesakit ini? Mengapa aku tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka? Apa ini wajar?
Ku serahkan semuanya pada waktu, berharap bisa menyebuhkan rasa sedih yang entah mengapa terus mengisi hatiku.
Sekian.
- Hanya fiksi jangan dibawa hati -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar